10 Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional yang Wajib Diketahui



Orang Indonesia sudah menyadari pentingnya memiliki asuransi karena bisa melindungi diri dari banyak hal yang tidak diduga. Baik secara fisik atau resiko usaha atau resiko lainnya. Inilah yang membuat perusahaan asuransi berkembang pesat dengan memberikan aneka jenis perlindungan.

Bukan cuma jenis perlindungan tapi juga sebagian menawarkan produk seperti menabung misalnya untuk biaya pendidikan atau biaya pengobatan atau untuk masa pensiun. Sistem dasar yang digunakan tetap sama tetapi memiliki sedikit perbedaan yang disesuaikan dengan jenis asuransinya.

Pengelolaan asuransi yang ada saat ini terdiri dua sistem yaitu konvensional dan syariah. Perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang terutama adalah prinsip dasarnya. Syariah mengelola dengan sistem berbagi resiko sedangkan asuransi konvensional menggunakan sistem pengalihan resiko.

Perbandingan Perbedaan Syariah dengan Konvensional

Seperti yang disebutkan sebelumnya perbedaan sistem pengelolaan asuransi syariah adalah berdasarkan sistem berbagi resiko (risk sharing) dimana seluruh peserta asuransi saling menolong. Dilandasi dengan investasi asset (tabarru’) yang memberikan pengembalian melalui sistem perjanjian sesuai syariat Islam.

Jadi perusahaan asuransi syariah berfungsi sebagai pengelola atas dana yang diterima, berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional yang bertindak dengan mengalihkan resiko (risk transfer). 

Sehingga perusahaan yang harus menanggung resiko yang terjadi sambil mengelola dana premi yang diterima agar mendapatkan keuntungan.

Berikut ini akan dibahas perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional lainnya agar bisa dipahami sebagai pertimbangan dalam memilih sistem asuransi.

1. Sistem Perjanjian (Akad)

Asuransi konvensional menggunakan sistem jual beli (tabaduli) dengan kesepakatan yang dibuat atas pihak perusahaan, pihak nasabah, objek yang dilindungi dan besaran premi. Jika terjadi resiko maka perusahaanlah akan menanggung semuanya. Itulah sebabnya premi harus dikelola agar bisa memberikan keuntungan.

Pada asuransi syariah sistem perjanjian yang digunakan adalah akad takaful yang prinsipnya saling menolong jika terjadi musibah. Hal ini disebut dengan dana tabarru’ yang dikumpulkan perusahaan.

2. Pemilik Dana

Pemilik dana pada asuransi konvensional adalah perusahaan karena premi yang dibayarkan peserta akan menjadi dana tanggungan jika terjadi resiko. Sistem pengalihan resiko membuat perusahaan yang menanggung resiko.

Sedangkan asuransi syariah membuat dana peserta menjadi dana bersama dan berfungsi sebagai dana tabarru’ untuk saling menolong. Prinsipnya adalah tidak mengambil keuntungan atau non-profit.

3. Pengelolaan Dana

Dana premi yang diterima dari nasabah asuransi konvensional dikelola sesuai kesepakatan tujuan awal misalnya untuk biaya investasi atau lainnya agar mendapatkan keuntungan maksimum.

Dengan sistem syariah perusahaan hanyalah pengelola bukan pemilik dana jadi pengelolaannya akan dibuat transparan untuk diketahui semua peserta. Pengelolaan dana harus melibatkan objek yang halal dan sesuai syariat Islam.

4. Bentuk Investasi

Pada asuransi konvensional perusahaan berhak melakukan investasi dana premi agar bisa memberikan keuntungan besar sehingga jika terjadi resiko, perusahaan tidak merugi. Jenis investasi dan keuntungan yang didapatkan semua adalah hak perusahaan, bukan peserta.

Sedangkan pada asuransi syariah investasi yang dilakukan harus halal dan sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah contoh investasi bisnis yang haram menurut syariat Islam:

  • Perjudian atau permainan yang mengarah pada judi.
  • Perdagangan atau penawaran atau permintaan palsu.
  • Jasa keuangan dengan sistem bunga.
  • Segala hal yang terkait dengan barang haram, mulai dari produksi, distribusi, penyediaan dan perdagangannya.
  • Melakukan suap.

5. Pengawasan

Perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional juga terlihat dari pengawasan operasionalnya. Asuransi konvensional tidak memiliki institusi khusus untuk mengawasi operasional dan pengelolaan dana nasabah tapi hanya harus tunduk pada peraturan Otoritas Jasa Keuangan.

Sedangkan pada asuransi syariah seluruh operasional dan pengelolaan dana diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah agar tetap sesuai dengan kaidah syariat Islam. Dewan Pengawas Syariah ini akan mempertanggungjawabkannya kepada Majelis Ulama Indonesia.

6. Dana Hangus

Dana hangus adalah dana yang akan hilang atau hangus saat periode perlindungan berakhir dan tidak ada klaim yang dilakukan atau saat terjadi penghentian pembayaran premi dan pelanggaran ketentuan lain yang telah disepakati.

Pada asuransi syariah tidak ada yang disebut dana hangus karena saat periode perlindungan berakhir atau peserta tidak sanggup membayar, dana yang pernah dibayarkan itu bisa diambil kembali seluruhnya. Kecuali yang mengikhlaskan sebagian kecil sebagai dana tabarru’.

7. Kelebihan Underwriting

Kelebihan underwriting adalah dana berlebih yang didapatkan dari investasi atau lainnya. Dana tersebut akan dibayarkan kepada nasabah setelah dikurangi dengan biaya klaim dan aneka biaya lainnya.

Pada asuransi syariah kelebihan dana tersebut akan dibagikan pada semua peserta secara proprata.

8. Wakaf dan Zakat

Wakaf dan zakat tidak berlaku pada asuransi konvensional sedangkan pada asuransi syariah pembayaran polis bisa dibayarkan kepada ahli waris. Wakaf adalah penyerahan hak milik pada penerima wakaf demi kemaslahatan umum. Pada asuransi syariah dana zakat wajib akan diambil dari keuntungan perusahaan.

9. Pembayaran Klaim

Perbedaaan asuransi syariah dan asuransi konvensional juga terlihat dari pembayaran klaim. Asuransi konvensional mengambil dana perusahaan untuk pembayaran klaim sesuai polis yang berlaku. Polis diterbitkan untuk perorangan kecuali polis tertentu yang berlaku untuk seluruh keluarga.

Jika terjadi klaim, asuransi syariah akan mengambil dana tabungan bersama untuk pembayarannya. Polis bisa diterbitkan untuk keluarga inti sehingga seluruh keluarga bisa terlindungi. Pembayaran klaim dilakukan dalam bentuk cashless dan tidak menutup kemungkinan klaim ganda ke asuransi lain.

10. Pembagian keuntungan

Perusahaan asuransi konvensional akan mengambil seluruh keuntungan pengelolaan. Sedangkan pada asuransi syariah keuntungan dibagi kepada seluruh peserta asuransi dengan komposisi berikut:

  • 60% dimasukkan pada dana tabarru’.
  • 30% diberikan pada peserta asuransi.
  • 10% diambil oleh perusahaan asuransi.

Pembagian keuntungan tidak bisa dilakukan jika terjadi defisit kecuali bisa ditutupi dari saldo tabarru’ atau pinjaman akad Qardh kepada perusahaan.

Demikianlah pembahasan mengenai perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang dibandingkan dengan jelas. Tinggal bagaimana masing-masing nasabah menyikapi perbedaan tersebut dalam memilih jenis asuransi yang akan digunakannya. Karena setiap jenis memiliki keunggulannya masing-masing.


0 Comments

Posting Komentar