Eko menjelaskan, setelah itu tim penyidik melakukan pelacakan untuk mengetahui lokasi distribusi barang tersebut.
"Selanjutnya, sekira pukul 22.30 WIB tim melakukan penindakan dengan memasuki ruko tersebut dan mendapati seorang laki-laki bernama saudara Sugiyo," terangnya.
"Serta ditemukan produk-produk tabung gas N2O merek Whip Pink berbagai varian berat di lokasi tersebut," tambah Eko.
Penggerebekan 2 Pabrik di Jakarta Utara
Masih dalam pengembangan kasus, penyidik kemudian melakukan penggerebekan terhadap pabrik 'Whip Pink' lainnya di kawasan Pulogadung, Jakarta Utara.
Di lokasi tersebut, ditemukan seorang perempuan bernama Etikasari yang berperan sebagai admin penjualan sekaligus menangani keuangan.
"Dari hasil interogasi singkat diketahui bahwa Saudari Etikasari menggunakan 3 unit handphone untuk melakukan tugasnya sebagai admin penjualan produk gas N2O merek Whip Pink," sebut Eko.
Selanjutnya, aparat juga menelusuri lokasi produksi lain di wilayah Pademangan, Jakarta Utara.
Di tempat ini, petugas menemukan empat orang pekerja yang terlibat dalam proses pembuatan gas tersebut.
"Pada Selasa, 14 April 2026, tim memasuki alamat dimaksud dan mendapati 4 orang yang merupakan karyawan di lokasi produksi gas N2O merek Whip Pink," terang Eko.
Ribuan Tabung Disita
Dalam operasi tersebut, polisi menyita ribuan tabung gas siap edar beserta berbagai perlengkapan produksi.
Tercatat ada 1.784 tabung dengan ukuran mulai dari 640 gram hingga 5.100 gram, serta 274 tabung kosong yang siap digunakan kembali.
Selain itu, turut diamankan ribuan nozzle, mesin pengisian otomatis, mesin press, cairan perasa, hingga perlengkapan untuk pengemasan.
"Tim juga menemukan produk gas N2O merek Whip Pink berbagai varian berat yang sudah siap edar," ungkap Eko.
Omzet Diduga Capai Miliaran
Dalam praktik distribusinya, jaringan ini diduga memanfaatkan sistem pemesanan secara daring.
Eko menjelaskan bahwa admin berperan mengatur pengiriman dari gudang terdekat dengan menggunakan jasa ojek online.